Finansial

Belajar Saham Untuk Pemula Dari Nol Hingga Mahir

Pengertian Saham, Jenis, Resiko, Keuntungan Dan Cara Memulai

Belajar saham saat ini sedang hangat diperbincangkan. Pada masa pandemik seperti sekarang ini, semakin banyak orang yang mulai melek finansial, dan mulai melirik saham sebagai primadona tersendiri.

Apalagi saat ini sumber informasi sudah semakin luas, dan juga teknologi dalam berinvestasi saham sudah sangat maju, sehingga memudahkan siapa saja terjun ke dunia saham.

Jika kalian tertarik untuk mencoba memiliki saham, sebaiknya kalian mempelajari dulu hal-hal yang berhubungan dengan saham, sebelum memutuskan untuk membelinya.

Apa itu saham?

Menurut website resmi IDX, saham atau stock adalah salah satu instrumen pasar keuangan, yang berfungsi sebagai tanda partisipasi modal seseorang, atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Dengan memiliki saham, maka seseorang dapat diakui atas kepemilikannya, terhadap suatu perusahaan dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Jenis-jenis saham

Saham dibedakan menjadi tiga jenis menurut sifatnya yaitu:

  • Segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim
  • Segi cara peralihannya.
  • Segi kinerja perdagangannya.

Agar lebih jelas, artikel belajar saham ini akan menjelaskan ketiga jenis saham di atas.

1. Saham berdasarkan kemampuan dalam hak tagih atau klaim

Saham dalam kategori ini adalah saham yang dikelompokkan, berdasarkan sifat klaimnya digolongkan menjadi dua, yaitu saham biasa dan saham preferen.

a. Saham biasa

Merupakan saham biasa yang dimiliki oleh setiap pendiri perusahaan atau bisnis. Saham ini menjadi tanda kepemilikan perusahaan oleh para pendirinya, yang telah menyetorkan sejumlah modalnya masing-masing.

Jika terdapat keuntungan dalam bisnis yang dihasilkan, akan diterima oleh pemegang saham, sesuai dengan besarnya modal yang mereka setorkan, dan juga sebaliknya jika terjadi kerugian. Saham biasa membatasi tanggung jawab para pemegang sahamnya, berdasarkan jumlah modal yang disetorkannya.

b. Saham preferen

Saham ini memberikan nilai pendapatan, yang besarnya tetap kepada pemegang sahamnya mirip seperti obligasi. Pemegang saham ini memiliki hak untuk melakukan klaim atas laba, dan aktiva perusahaan, beserta dividennya selama masa berlaku saham ini.

Jika perseroan atau perusahaan mengalami kerugian, pemegang saham preferen diprioritaskan, untuk membagi hasil penjualan aset perseroan / perusahaan.

2. Saham berdasarkan cara peralihannya

Berdasarkan peralihannya, saham digolongkan menjadi dua yaitu saham atas unjuk dan saham atas nama.

a. Saham atas unjuk (bearer stocks)

Pemilik saham ini akan mendapatkan saham, tanpa ada identitas namanya yang tertulis secara sah.

Keuntungan dari pemegang saham jenis ini, yaitu dapat melakukan jual beli saham yang dipegangnya tanpa harus melakukan pengalihan, atau pemindahan nama pemilik saham.

Selain itu, investor saham jenis ini juga memiliki hak, untuk ikut dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

b. Saham atas nama (Registered Stocks)

Saham ini adalah kebalikan dari saham atas unjuk (bearer stocks), dimana pemilik saham jenis ini akan mendapatkan saham, yang bertuliskan nama mereka di atasnya.

Proses peralihan saham ini juga harus melalui prosedur tertentu, tidak semudah peralihan dari jenis saham sebelumnya.

3. Saham berdasarkan kinerja perdagangannya

Berdasarkan kinerja perdagangannya, saham dibedakan menjadi lima jenis yaitu:

  • Blue Chip Stocks.
  • Income Stocks.
  • Growth Stocks.
  • Speculative Stocks.
  • Counter Cyclical Stocks.

a. Blue Chips Stocks

Ini adalah jenis saham yang dimiliki oleh perusahaan, dengan nilai kapitalisasi terbesar, dan memiliki reputasi yang tinggi, dengan sistem manajemen perusahaan yang sangat baik, dan pendapatan dan laba perusahaan selalu konsisten.

Saham ini terkenal sebagai ‘saham sultan’, karena harga per lotnya yang cukup tinggi. Contoh saham Blue Chip antara lain adalah; ICBP, UNVR, BBCA, BBRI, BMRI, GGRM, dan HMSP.

b. Income Stocks

Saham ini merupakan saham yang terkenal mampu membayar dividen, yang lebih banyak dari periode sebelumnya.

Sesuai namanya, saham ini bisa menjadi sumber pemasukan pasif, karena jumlah dividennya yang cukup besar di tahun-tahun mendatang.

Namun, perlu diperhatikan saham jenis ini juga memiliki nilai risiko yang lebih tinggi, dibandingkan jenis saham sebelumnya, yaitu blue chip yang cenderung stagnan pergerakan harganya.

c. Growth Stocks

Saham ini dimiliki oleh perusahaan, yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi dalam kurun waktu tertentu.

Ciri-ciri saham yang termasuk growth stock, yaitu perusahaan bergerak pada sektor yang sedang mengalami trend atau ramai diperbincangkan.

Contohnya; yaitu saham PTBA yang pada tahun 2018, mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, karena trend harga batubara dunia.

Beberapa contoh saham yang termasuk growth stocks adalah; PT. Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

d. Speculative Stocks

Saham jenis ini memiliki tingkat risiko yang cenderung tinggi, karena sesuai dengan namanya yaitu saham spekulatif, maka saham ini diperjualbelikan, berdasarkan spekulasi perubahan harganya selama beberapa tahun ke depan.

e. Counter Cyclical Stocks

Saham ini dimiliki oleh perusahaan, yang kondisi finansialnya tidak terpengaruh oleh kondisi apapun.

Jika terjadi resesi atau krisis, perusaahan ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, dibandingkan kondisi yang sedang terjadi. Harga saham ini termasuk tinggi, dan fluktuatif, karena tingkat fluktuasinya yang juga cepat.

Keuntungan Memiliki Saham

Apa keuntungan memiliki saham?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seseorang yang memiliki saham terhadap suatu perusahaan dapat diakui sebagai pemilik perusahaan.

Selain keuntungan pengakuan atas hak kepemilikan suatu perusahaan, dengan mempunyai saham seseorang akan mendapatkan dua jenis keuntungan, yaitu dividen dan capital gain.

Pengertian dividen adalah pembagian keuntungan atas pendapatan perusahaan, yang dibagikan secara rutin kepada para pemilik saham.

Besarnya dividen yang dibagikan oleh perusahaan, dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan yang kalian cari melalui situs IDX. Laporan keuangan yang bisa dilihat biasanya dalam bentuk file PDF.

Sedangkan capital gain adalah selisih profit atau keuntungan dari harga jual saham, yang lebih tinggi daripada harga belinya.

Keuntungan ini dapat diperoleh, ketika kalian menjual saham, yang dimiliki dengan harga yang lebih tinggi, daripada harga saat membelinya.

Tentunya untuk bisa mendapatkan kedua jenis keuntungan tersebut, kalian harus mempelajari terlebih dahulu, bagaimana cara membeli saham perusahaan yang baik, agar tidak mengalami kerugian di masa mendatang.

Istilah di Dunia Saham

Dunia belajar saham memiliki berbagai macam istilah yang harus kalian pahami ketika memutuskan untuk terjun ke dalamnya. Beberapa istilah yang harus kalian pahami ketika akan membeli saham yaitu:

  • Lot: istilah satuan saham yang bernilai 100 lembar per satuannya. Jadi, jika kalian ingin membeli 3 Lot saham, maka berarti kalian membeli 300 lembar saham perusahaan tersebut.
  • Waktu bursa: yaitu jam dimana kalian bisa melakukan transaksi beli maupun jual saham. Hari bursa adalah hari Senin-Kamis pada jam transaksi pukul 09:00:00-12:00:00 (sesi I) dan pukul 13.30.00-15.49.59 (sesi II) dan Jumat pukul 09:00:00-11:30:00 (sesi I) dan pukul 14:00:00-15:49:59 (sesi II). Artinya, kalian tidak bisa melakukan transaksi di luar jam-jam tersebut, namun kalian masih memiliki kesempatan untuk memasukkan order beli atau jual di sesi preopening (08:45:00-08:55:00 dan 08:55:01-08:59:59 WIB), sesi pra penutupan (15:50:00-16:00:00 dan 16:00:01-16:04:59), dan sesi pasca penutupan (16:05:00-16:15:00).
  • Fraksi harga: harga saham bergerak dalam kelipatan tertentu yang disebut sebagai fraksi. Mulai tahun 2014, Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan peraturan baru mengenai perubahan fraksi harga saham menjadi kelompok harga < Rp 500 fraksi harganya Rp 1, kelompok harga Rp 500 – Rp 5.000 fraksi harganya Rp 5, dan kelompok harga > Rp 5.000 fraksi harganya Rp 50.
  • Batasan harga (auto rejection): adalah sistem yang akan secara otomatis menolak order beli ataupun jual jika harga bergerak naik atau turun melebihi batas tertentu. Auto Rejction Atas (ARA) adalah batas maksimum naiknya harga saham yang diijinkan, sedangkan Auto Rejction Bawah (ARB) adalah batas maksimum turunnya harga saham yang diijinkan.
  • Blue chips adalah sebutan untuk saham perusahaan yang telah diakui mapan dan sehat keuangannya secara nasional. Contohnya PT Bank Central Asia TBk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
  • Saham LQ45 adalah 45 saham yang terbaik di sektornya dan memiliki likuiditas paling tinggi. Namun, saham LQ45 ini belum tentu merupakan saham Blue Chip karena tidak tentu memiliki kinerja perusahaan yang baik.
  • IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) adalah ukuran statistik pergerakan dari sekumpulan saham-saham yang terdaftar di BEI. IHSG menjadi indikator pergerakan semua saham yang ada di Indonesia. Biasanya pergerakannya secara signifikan dipengaruhi oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti UNVR, BBCA, BMRI, BBRI, ICBP, ASII, SMGR.

Risiko di Pasar Saham

Saham merupakan instrumen investasi keuangan yang memiliki resiko tertinggi, dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya.

Meskipun saham menghasilkan keuntungan yang paling besar dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, namun saham juga bisa berakibat sebaliknya.

Kerugian bisa terjadi ketika kalian tidak memiliki ilmu yang mencukupi ketika melakukan jual dan beli saham. Banyak sekali orang yang masih membeli saham karena alasan ikut-ikutan atau FOMO (Fear Of Missing Out).

Nah, hal ini harus dihindari agar kalian tidak mengalami kerugian ketika terjun ke dunia saham.

Sebelum memutuskan untuk mulai masuk ke dunia saham, sebaiknya kalian mengenali terlebih dahulu resiko apa saja yang bisa terjadi di dunia saham.

Berikut jenis resiko atau kerugian yang akan dihadapi saat bermain saham :

1. Capital Loss

Adalah kerugian yang terjadi ketika harga jual saham lebih rendah dibandingkan harga belinya. Contohnya, ketika membeli saham PT Telkom Indonesia pada harga Rp 3.020 per lembar lalu menjualnya dengan harga Rp 2.895 per lembar, maka kerugiannya sebesar Rp 125 per lembar.

2. Risiko Likuidasi

Adalah risiko yang dialami pemegang saham jika perusahaan yang sahamnya dipegang mengalami kebangkrutan atau dibubarkan oleh pengadilan.

Pemegang saham memiliki prioritas paling akhir atas klaim hak kepemilikan perusahaan, setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi, dimana pemegang saham dapat mendapatkan sahamnya, jika masih tersisa dana perusahaan setelah melunasi seluruh hutangnya.

Supaya terhindar dari risiko likuiditas ini, sebaiknya belilah saham yang memiliki fundamental yang sehat. Perusahaan dengan fundamental yang sehat dapat diketahui dari laporan keuangannya yang juga sehat dan transparan.

3. Suspensi

Adalah penghentian perdagangan sebuah saham oleh BEI karena sejumlah faktor, sehingga mengakibatkan investor saham tidak bisa melakukan transaksi saham yang disuspensi.

Suspensi dapat berlangsung selama beberapa hari, tetapi tidak menutup kemungkinan tetap berlanjut hingga beberapa bulan atau bahkan tahun. Dalam waktu suspensi tersebut, pelaku pasar modal dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di saham tertentu.

Nah, sebelum kalian mengetahui bagaimana cara memilih saham perusahaan yang baik, sebaiknya kalian memahami terlebih dahulu cara membuka rekening saham untuk bisa bertransaksi jual-beli saham.

Cara Memilih Sekuritas yang Tepat

Di artikel belajar saham ini sudah pasti membahas sekuritas. Karena sekuritas berkaitan dengan saham.

Apa itu Sekuritas?

Sekuritas adalah perusahaan yang memiliki izin untuk melakukan transaksi jual/beli saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sekuritas ini dapat digambarkan seperti sebuah toko sembako. Dimana ketika kalian akan membeli sembako, maka kalian tidak pergi ke pabriknya langsung, melainkan akan pergi ke toko sembako.

Supaya bisa melakukan pembelian dan penjualan saham, kalian harus memiliki rekening saham terlebih dahulu.

Rekening saham dikenal juga dengan istilah RDN atau singkatan dari Rekening Dana Nasabah. Saat ini membuka rekening saham dapat dilakukan 100% secara online.

Dengan mendaftar menjadi nasabah pada sebuah perusahaan efek atau sekuritas, maka secara otomatis kalian akan tercatat dalam pembukuan Perusahaan Efek, yang terdaftar di KPEI (PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia).

Lalu bagaimana cara memilih sekuritas yang tepat?

Nah, memilih sekuritas yang baik sangat penting supaya bisa menjamin kelancaran transaksi saham di pasar saham.

Berikut adalah ciri-ciri sekuritas yang baik:

  • MKBD atau Modal Kerja Bersih Disesuaikan yang tinggi. Menurut OJK, umumnya perusahaan efek harus punya permodalan minimum 30 miliar, jika tidak maka tidak memungkinkan untuk melakukan trading. Semakin tinggi MKBD, maka akan berdampak positif untuk nasabah, karena MKBD inilah yang akan digunakan oleh sekuritas untuk mendanai saham yang kita beli.
  • Riset akan berbanding lurus dengan jumlah MKBD. Dimana jika MKBD besar, berarti modal untuk mendanai tim riset juga akan semakin besar, sehingga akan menghasilkan kualitas riset yang baik pula. Tim riset yang baik, akan membantu sekuritas mengakses berbagai hal, seperti produksi company report yang rutin dan berstandar tinggi, company visit emiten yang lebih rutin, pelatihan untuk nasabah secara periodik, dan kualitas trainer yang baik.
  • Teknologi yang digunakan oleh sekuritas ada dua, yaitu teknologi untuk menjangkau nasabah dan teknologi untuk membangun kesuksesan nasabah. Teknologi tersebut, membantu kalian sebagai nasabah untuk mendapatkan informasi insight data pasar, berupa fundamental maupun teknikal, sehingga bisa menentukan keputusan beli, simpan, atau jual.
  • Fee transaksi tiap sekuritas berbeda-beda dan menarik tiap calon nasabah yang bervariatif pula.
  • Carilah sekuritas dengan sistem administrasi, sistem pelaporan dan konfirmasi yang baik, serta customer service yang ramah dan responsif dalam menanggapi pertanyaan dan keluhan nasabahnya.
  • Jangan berpatokan pada sekuritas rekomendasi orang, karena sekuritas yang baik di kota A belum tentu akan baik di kota lain karena kualitas sekuritas juga bergantung dari kualitas SDM di tiap wilayah tersebut.

Nah, tetapi pertimbangan-pertimbangan tersebut kembali lagi ke kalian sebagai pengguna sekuritas.

Kalian harus memahami terlebih dulu apa yang kalian butuhkan.

Seperti apakah kalian membutuhkan analisa yang berkualitas?

Aplikasi online trading yang mudah dipakai dan dukungan training yang berkualitas, ataupun account representatives yang responsif.

Berapa modal yang dibutuhkan untuk membeli saham?

Umumnya untuk membuka rekening di sekuritas membutuhkan modal awal minimal Rp 5.000.000. Namun, saat ini sudah banyak sekuritas yang bersaing memberikan modal awal yang serendah mungkin hingga Rp 100.000 saja.

Namun, perlu diperhatikan, dengan modal Rp 100.000 saja, maka pilihan saham yang ada menjadi lebih sempit dan juga kualitas fundamental yang bagus menjadi terbatas.

Lalu berapakah modal yang ideal untuk memulai berinvestasi saham?

Besarnya modal bervariatif tergantung dengan kemampuan setiap orang.

Harga saham juga bervariatif tergantung dari kualitas fundamentalnya.

Semakin baik fundamental atau kinerja perusahaan, maka harga sahamnya akan semakin tinggi.

Saham-saham Blue Chip biasanya memiliki harga di atas Rp 5.000/lot nya, sehingga jika ingin membeli 1 lot (100 lembar) saham maka kalian membutuhkan modal Rp 500.000, dan biaya ini belum termasuk fee broker.

Misalnya fee broker sekuritas yang kalian gunakan adalah 0,25% (Rp 6.250), maka total modal yang dibutuhkan menjadi Rp 2.606.250.

Untuk saham-saham di bawah Blue Chip memiliki harga yang lebih murah, sehingga modal yang dibutuhkan juga menjadi lebih kecil.

Ketika membeli saham, pastikan kalian telah mengecek terlebih dahulu fundamental perusahaan dan harga yang ada saat itu dengan menggunakan analisis teknikal.

Besar kecilnya modal yang kalian miliki, akan mempengaruhi strategi pengaturan keuangan kalian dalam membeli saham.

Semakin kecil modal yang kalian miliki, maka sebaiknya kalian fokus membeli saham perusahaan tertentu saja (strategi terkonsentrasi).

Jika modal kalian banyak, maka kalian bisa membeli saham dari beberapa jenis perusahaan (strategi diversifikasi).

Contoh pengaturan keuangan di pasar saham yaitu, jika kalian memiliki modal Rp 5-10 juta untuk investasi saham, sebaiknya kalian membeli 1 atau 2 saham perusahaan saja, supaya mendapatkan keuntungan maksimal.

Jika kalian memiliki dana Rp 3 milliar, maka kalian dapat membeli beberapa jenis saham perusahaan yang berbeda untuk mempermudah likuiditas.

Investasi VS Trading

Belajar saham tidak lepas dari istilah investasi dan trading. Apa sih perbedaannya?

Investasi

Investasi memiliki pengertian melipatgandakan aset yang telah dimiliki, dalam jangka waktu beberapa waktu mendatang. Aset yang biasanya bisa dijadikan investasi adalah tanah, emas, deposito, obligasi, reksadana, dan saham.

Proses penerimaan keuntungan atau hasil dari investasi ini, biasanya dalam jangka waktu yang lama, bisa beberapa bulan ke depan, atau bahkan beberapa tahun mendatang.

Keuntungan yang membedakan investasi daripada menabung adalah, investasi dapat menjadi passive income yang berarti kalian mendapatkan keuntungan secara rutin, dari modal yang kalian tanam.

Keuntungan selanjutnya adalah investasi memberikan compound interest dalam jangka panjang.

Compound interest adalah penumpukan keuntungan yang diperoleh dari investasi per tahun.

Misalnya, kalian investasi dengan modal awal Rp 1.000.000, dan mendapatkan keuntungan rata-rata sebesar 20% per tahun.

Maka modal kalian tersebut, akan bertambah jumlahnya setiap tahun sebesar 20% dari total modal awal, yang akan semakin besar jumlahnya, jika kalian membiarkannya dalam jangka waktu yang cukup lama.

Investasi juga memiliki tingkat risiko yang bermacam-macam tergantung dari jenis investasinya.

Urutan investasi dari profil risiko terendah hingga tertinggi yaitu deposito, obligasi, reksa dana, dan saham. Pilihlah jenis investasi yang paling sesuai dengan profil risiko kalian.

Jika kalian memilih untuk berinvestasi saham, maka kalian harus siap dengan risiko-risiko yang ada, dan yang paling penting dari itu, tentukanlah dulu apa tujuan kalian melakukan investasi.

Jika kalian memiliki motivasi yang jelas, maka rintangan apapun yang menghadang kalian, akan memiliki tekad untuk tetap menjalankan investasi yang sudah kalian mulai tersebut.

Trading

Trading berasal dari bahasa Inggris, yang artinya adalah perdagangan. Seperti artinya, trading saham berarti proses memperdagangkan saham untuk memperoleh keuntungan.

Trading sama seperti dagang pada umumnya, yaitu ada pembeli, penjual, dan produk yang diperdagangkan (dalam hal ini adalah saham). Sehingga adanya simpang siur bahwa trading seringkali diidentikkan dengan judi ini kurang tepat.

Berbeda dengan investasi, trading memiliki orientasi memperoleh keuntungan dalam jangka waktu yang pendek, mulai dari hitungan bulan, mingguan, harian, bahkan hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Banyak sekali trader yang menerapkan strategi trading sehari, atau bahkan beberapa jam saja untuk meraup keuntungan.

Trading juga membutuhkan analisis yang tidak serumit investasi, dimana investasi memperhitungkan rekam jejak suatu perusahaan, dari beberapa tahun ke belakang hingga beberapa tahun mendatang.

Trading lebih banyak berfokus ke masa sekarang, dengan memperhatikan data-data perusahaan dalam hitungan mingguan, bulanan, hingga beberapa bulan ke depan, atau bahkan untuk satu tahun ke depan.

Namun, karena trading saham merupakan pekerjaan yang membutuhkan ilmu dan skill, maka jika kalian tertarik untuk menjadi seorang trader dibutuhkan kemauan, untuk terus belajar, dan disiplin dalam mengatur waktu saat trading.

Terutama jika kalian trading dalam waktu yang sangat singkat akan diperlukan konsentrasi yang ekstra untuk memperhatikan pergerakan harga pasar saham.

Karena jangka waktu yang singkat, maka risiko yang dirasakan oleh seorang trader juga akan lebih terasa, dibandingkan seorang investor yang menunggu uang atau modalnya untuk bertumbuh.

Maka, tidak salah jika banyak orang yang mengalami stress, akibat rugi besar akibat trading dan malah menyalahkan trading sebagai judi semata.

Kalian bisa menghindari kerugian dalam trading dengan cara membuat perencanaan modal, dan juga strategi trading supaya kalian dapat memperkirakan besarnya profit dan juga kerugian yang akan dialami.

Nah, setelah kalian mengetahui perbedaan antara investasi dan trading, maka keputusan selanjutnya ada di tangan kalian sendiri.

Apakah kalian lebih cocok menjadi seorang investor atau seorang trader hanya kalian yang dapat menentukannya.

Jika kalian merupakan orang yang ingin melipatgandakan uang kalian, dan tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan trading, maka kalian lebih cocok menjadi seorang investor.

Sedangkan, jika kalian merupakan orang yang ingin mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat, dan memiliki banyak waktu untuk melihat pergerakan harga pasar saham, maka trader mungkin bisa menjadi pilihan kalian.

Cara Memilih Perusahaan Pasar Saham atau Emiten

Ketika sudah harus memilih akan membeli saham apa, kalian mungkin bingung harus membeli saham apa yang bagus.

Emiten atau perusahaan di pasar saham ada banyak sekali jumlahnya, dan rentang harganya juga bervariasi ada yang murah sekali hingga mahal sekali.

Emiten yang ada di Indonesia saat ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

  • Lapis pertama (first liner).
  • Lapis kedua (second liner).
  • Lapis ketiga (third liner).

Berikut penjelasan ketiga kategori emiten menurut artikel belajar saham ini.

1. Saham lapis pertama (first liner)

Saham-saham yang ada di kategori ini, biasanya dikenal juga dengan sebutan big caps atau blue chips, yaitu saham-saham yang berkapitalisasi besar dan sangat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.

Perusahaan-perusahaan yang ada di kelas ini, merupakan perusahaan yang memiliki rata-rata kapitalisasi sekitar Rp 40 triliun atau lebih.

Pergerakan saham ini juga termasuk lambat dalam jangka pendek, namun pasti naik dalam jangka panjang.

Jika kalian memiliki tujuan investasi jangka panjang di pasar modal, dan memiliki modal yang cukup besar, maka saham ini cocok untuk kalian beli.

Contoh saham yang termasuk blue chips adalah ASII, BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ICBP, PTBA, UNVR, SMGR, INDF, GGRM, KLBF, PGAS, UNTR, INTP.

2. Saham lapis kedua (second liner)

Saham yang merupakan kelas ini adalah perusahaan yang memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan saham lapis pertama namun memiliki kapitalisasi yang cenderung lebih kecil.

Kapitalisasi saham emiten-emiten saham lapis kedua ini rata-rata adalah di atas Rp 4 triliun.

Emiten yang ada di saham lapis kedua ini rata-rata adalah emiten yang sedang mengalami pertumbuhan dan belum semapan saham lapis pertama.

Jika kalian memiliki budget untuk membeli saham pada rentang harga Rp 1.000 – Rp 5.000, maka saham lapis kedua bisa menjadi pilihan kalian.

Contoh kode emiten saham lapis kedua adalah LPKR, ADRO, LPPF, BMTR, EXCL, JPFA, MNCN.

3. Saham lapis ketiga (third liner)

Merupakan saham yang paling atraktif pergerakan harganya, yaitu mudah dimanipulasi pergerakan harganya oleh beberapa pihak.

Saham lapis ketiga ini memiliki kapitalisasi yang sangat kecil dan seringkali disebut juga saham gorengan karena tidak ada pergerakan harga namun tiba-tiba bisa mengalami pergerakan harga yang begitu tinggi.

Banyak trader yang memanfaatkan saham jenis ini untuk mendapatkan keuntungan, namun banyak juga yang menjadi korban kerugian.

Biasanya ciri-ciri saham lapis ketiga ini adalah harganya di bawah Rp 1.000 bahkan di bawah Rp 500 dengan jumlah saham yang tidak terlalu banyak.

Nah, jika kalian ingin mencicipi trading dalam waktu singkat mungkin kalian bisa mempelajari tentang saham lapis ketiga ini lebih dalam lagi.

Lihat juga : Cara Bermain Saham Aman Untuk Pemula

Kesimpulan

Belajar saham saat ini sudah bukan hal yang asing lagi, apalagi dibantu dengan adanya kemudahan, untuk melakukan transaksi dan pembukaan rekening saham secara online.

Dengan mempelajari ilmu dan skill dalam pasar saham, kalian akan bisa mendapatkan keuntungan dari sebagian uang yang kalian miliki.

Sama seperti produk atau barang, saham juga merupakan komoditas yang dapat diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan.

Sudah banyak sekali sumber belajar saham baik Youtube, buku, hingga kelas saham yang ada saat ini, sehingga tidak ada salahnya kalian mulai mencoba mempelajari dunia saham, untuk bisa mengembangkan uang yang kalian miliki.

Lihat juga : Tips Investasi Anti Gagal Untuk Pemula

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Articles

Back to top button