Memanfaatkan Limbah Plastik Sebagai Pengganti Batu Bata Ecobrick

Di zaman revolusi industri 4.0 ini manusia dihadapkan dengan masalah pencemaran lingkungan entah itu melalui darat, laut atau udara. Pencemaran kian tak terbendung seiring dengan kesadaran masyarakat yang ikut kian menurun.

Pencemaran ini salah satunya disebabkan oleh limbah plastik yang sulit untuk diurai. Tercatat, Indonesia sebagai salah satu negara pengguna plastik terbanyak di dunia. Setidaknya Indonesia memiliki andil 3,2 juta ton plastik dalam krisis pencemaran laut. Lihat juga: cara memilih biji kopi yang bagus

Hal ini tentu tidak bisa diselesaikan dengan terus menerus melemparkan masalah ini kepada pemerinta. Sudah saatnya masyarakat sadar bahwa memang plastik sulit untuk diurai. Minimal masyarakat sadar untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan dan berhenti menggunakan bahan single use.

Menjadi ironi ketika masyarakat sudah terbiasa dengan membuang sampah sembarangan di sungai lalu ketika diberi bencana seperti banjir selalu menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak becus menangani masalah banjir. Lihat juga: Cara Menanam dan Merawat Daun Mint dalam Skala Rumah Tangga

Sejatinya plastik memang diperuntukkan untuk membantu membawa barang. Sang pencipta plastik pun menciptakan plastik sebagai bahan yang tahan lama dan bisa digunakan berulang kali.

Namun, seiring perkembangan zaman, plastik digunakan sebagai bahan yang terbilang fleksibel dan praktis. Sehingga membuat semua bungkus makanan dan minuman memilih plastik sebagai wadahnya.

Dampak dari limbah plastik ini cukup mengerikan dimana jika ditimbun dalam tanah akan mengurangi penyerapan pada akar. Di perairan pun tentunya bisa membuat biota laut menjadi korban dari sampah plasti ini. Apabila plastik dibakar tentunya akan mengakibatkan polusi udara.

Lalu jika tidak bisa terurai dengan baik, langkah apa yang seharusnya dilakukan terhadap ancaman dari limbah plastik?. Solusinya ialah memanfaatkan limbah plastik sebagai apapun yang bisa mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

Diantaranya ialah menjadikan limbah plastik sebagai subtitasi atau pengganti bahan aspal untuk jalan. Hal ini pernah dilakukan studi di India terkait jalan plastik. Namun, dalam penelitian tersebut tentu menimbang kelebihan serta kelamahan dari penggunaan jalan plastik.

Setidaknya terdapat 1 hal yang lebih rasional dan tentunya memiliki nilai positif yang cukup tinggi. Yakni menggunakan sampah plastik sebagai bahan pengganti batu bata atau lebih dikenal dengan sebutan ecobrick. Lihat juga: Inilah Cara Tepat Mengelola Keuangan Saat Karantina Di Rumah

Ecobrick ini terdiri dari botol plastik yang berisikan sampah-sampah plastik yang dipadatkan di dalam botol tersebut. Inisiatif ini sudah muncul beberapa tahun lalu ketika maraknya limbah plastik yang kian hari kian meresahkan.

Ecobrick ini juga sudah diterapkan oleh beberapa masyarakat di Indonesia. Diantaranya digunakan sebagai sofa, meja makan, kursi, hingga sebagai bahan pondasi rumah.

Tentu jika dibandingkan dengan batu bata, kualitas daya tahannya pun terlihat lebih kokoh batu bata. Namun, pemanfaatan ecobrick sebagai pengganti batu bata ini jika dibuat dengan sungguh-sungguh hasilnya pun tidak kalah dengan kokohnya batu bata.

Hal ini menjadi langkah yang bisa diambil dimulai dari lingkungan pribadi terlebih dahulu. Jika sudah membiasakan untuk tidak lagi menggunakan barang single use baru memanfaatkan limbah plastik, barulah memberikan edukasi kepada warga sekitar rumah untuk mengikuti hal yang sama.

Sehingga ketika langkah ini dilakukan dengan banyak orang, bukan hal yang tidak mungkin kesadaran masyarakat ikut tercipta di Indonesia bahkan seluruh dunia. Artikel ini pernah di singgung di artikel: 3 Topik Trending Di Tahun 2020.

Leave a Reply