Kisah Perjuangan Erwi, TKW yang Menjadi Korban Penyiksaan Majikan

Erwiana Sulistyaningsih atau yang akrab disapa Erwi, adalah seorang Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang berasal dari Ngawi, Jawa Tengah. Wanita yang bekerja di Hongkong itu sempat menjadi trending topik di media internasional atas kasus penyiksaan yang dialaminya selama bekerja di luar negeri. Bagaimana detail kasusnya ? Simak artikel ini sampai habis ya…

Erwiana Sulistyaningsih, lahir di Ngawi pada tanggal 7 Januari 1991. Ayahnya seorang pekerja serabutan, dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Cita citanya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terhalang oleh kondisi keuangan keluarganya yang sulit. Sampai pada akhirnya ia menjadi Tenaga Kerja Wanita Indonesia, dan bekerja di Hongkong sebagai Asisten Rumah Tangga. Namun siapa sangka, ternyata dia menjadi korban penyiksaan oleh majikannya sendiri di Hongkong.

Kejadian penyiksaan yang dialaminya berlangsung dari bulan Mei 2013 sampai bulan Januari 2014. Ia pernah disiksa secara fisik dalam kurun waktu kurang lebih 8 bulan oleh majikannya sendiri. Akibatnya, banyak luka ditubuhnya yang akhirnya menjadi infeksi karena ia tidak pernah dibawa ke dokter setelah kejadian penyiksaan itu. Beruntungnya saat akan dipulangkan ke Indonesia, Erwi bertemu dengan sesama pekerja yang berasal dari Indonesia. Akhirnya setelah tiba di Indonesia, Erwi langsung dibawa ke Rumah Sakit di daerah Sragen, Jawa Tengah untuk menjalani perawatan luka secara intensif.

Kejadian ini memunculkan kekhawatiran mengenai perlakuan terhadap asisten rumah tangga yang bekerja di Hongkong, bahkan Amnesty International pun ikut turun tangan menangani kasus ini.

Kemudian akhirnya kasus ini menggemparkan media internasional dan menjadi trending topik di seluruh dunia, sehingga menyebabkan terjadinya unjuk rasa besar besaran di Hongkong yang diikuti oleh lebih dari 5000 orang dari berbagai kelompok yang menyerukan keadilan untuk Erwiana, karena ternyata polisi tidak menyelidiki kasus ini sebagai tindakan kriminal.

Kemudian Erwi mendapat bantuan dari aktivis peduli buruh migran yang akhirnya bisa membuat Erwi bangkit dan berani menghadapi kasus yang tengah menimpa dirinya. Sejak itulah, nama Erwiana Sulistyaningsih melambung tinggi hingga pada tahun 2014 majalah TIME memasukkan nama Erwiana Sulistyaningsih di deretan seratus orang yang berpengaruh.

Erwiana Sulistyaningsih - Perempuan Tangguh Pelawan Penindasan

Bersamaan dengan itu, ia banyak mendapat tawaran beasiswa dari dalam maupun dari luar negeri. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Erwi dengan baik sampai akhirnya ia berhasil lulus dengan predikat Cumlaude di Universitas Santa Dharma Yogyakarta pada September 2018 lalu.

Erni Lestari sebagai Ketua International Migrants Alliance ( IMA ) dan Magdalena Sitorus sebagai Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mengatakan bahwa Erwi adalah sosok yang patut diteladani untuk perjuangannya membela martabat manusia dan menentang penindasan.

Kini Erwi bergabung ke dalam organisasi peduli buruh migran dan menyatakan komitmen akan mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan hak – hak buruh migran.

Video wawancara Erwiana Sulistyaningsih ( Erwi )

“Kemenangan saya ini bukan hanya soal nominal ya, tapi juga untuk memberikan semangat kepada teman-teman yang sedang berjuang juga,”
– Erwiana Sulistyaningsih –
Share on:

Leave a Comment