Predator Seks Meraja Lela, Inilah Hukuman Yang Pas Untuk Pelaku

Di tengah kondisi yang tidak menentu seperti ini, masih banyak masalah-masalah sosial yang perlu perhatian khusus dari masyarakat ataupun pemerintah langsung. Saat ini, kekerasan seksual pun masih menjadi hal yang tak bisa lepas dair Bangsa Indonesia.

Pada akhir 2019, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, I Gusti Ayu Bintang Darmavati, mengungkapkan bahwa terdapat hampir 3 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Baca juga: Informasi Update Jumlah Korban Corona Di Indonesia

Angka yang cukup tinggi untuk sebuah negara yang memiliki moral dan sopan santun ini. Faktanya predator seksual tidak mengejar hubungan berdasarkan sebuah komitmen atau rasa yang sama.

Predator seks ini menganggap tubuh lawan jenis sebagai sebuah capaian yang sesudah dimenangkan akan ditinggalkan begitu saja.

Lalu, ketika libido terasa cukup dan bangkit, maka pelaku akan mengejar korban lagi. Sesuatu seperti ini berulang hingga korban tidak bisa lagi meminta tolong siapapun. Terkadang ada ancaman yang diberikan kepada pelaku terkait hal ini.

Jika sudah seperti ini tidak hanya fisik yang terganggu namun juga mentalnya. Perlu perhatian khusus bagi masyarakat untuk saling menjaga dan sadar bahayanya predator seksual ini.

Predator seks bisa ada di mana saja, sekalipun di tempat-tempat umum yang sering dikunjungi. Tidak ada ciri-ciri yang pasti, membuat keberadaan predator seks agak sulit untuk terdeteksi. Baca juga: Benarkah Pengakuan Raja Belanda Bahwa Indonesia Dijajah Bukan Selama 350 Tahun?

Meskipun demikian, beberapa tindakan dan kebiasaan dapat menjadi ‘warning sign’ bagi masyarakat untuk lebih waspada diantaranya :

1. Manipulatif artinya saat korban mulai merasa tak nyaman, predator seksual ini biasanya akan memutarbalikkan fakta. Predator paling senang untuk mendramatisasi berbagai hal.

Membuat korban justru merasa menjadi pihak yang bersalah. Membandingkan dengan apa yang telah diberikan, sehingga korban tidak memiliki alasan untuk menolak dan saat korban lengah disitulah predator mulai menunjukkan aksinya.

2. Predator sangat perhatian terhadap korban. Pada tahap pendekatan, biasanya pelaku akan memberikan perhatian penuh kepada ‘calon’ korban. Beragam kalimat manis dilontarkan, berbagai tindakan juga diberikan untuk menunjukkan rasa kepada si korban.

Korban akan selalu diperlakukan istimewa. Perhatian memang sah-sah saja apabila diberikan dalam skala yang masih bisa dinalar. Baca juga: Daftar Website Iklan Sering Digunakan Pebisnis

3. Pelaku cenderung mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya. Hal itu dilakukan pelaku untuk mengambil kepercayaan diri korban sehingga mudah dikontrol oleh pelaku. Seperti tidak ada yang lebih memahami korban selain pelaku. Ketergantungan pun mulai muncul seiring berjalannya waktu.

4. Gerak-gerik yang mencurigakan bisa saja menjadi acuan untuk mengenali pelaku. Melihat watak pelaku yang mana kala memiliki standar ganda untuk si korban. Standar ganda yang dimaksud ini ialah korban wajib mematuhi pelaku sedangkan pelaku tidak apa-apa jika tidak mematuhi si korban.

Lalu bagaimanakah solusi untuk predator seks ini?. Cukup dengan memberi sanksi tegas seperti kebiri, dan sanksi sosial lainnya yang benar-benar membuat jera si pelaku.

Tidak menjadi jaminan tatkala pelaku menyesali perbuatannya. Sehingga sekali bertindak harus ada sanksi tegas yang mengatur. Jika peraturan tidak dipertegas maka bukan hal yang tidak mungkin akan semakin banyaknya predator seksual di Indonesia. Lihat juga: cara usir tikus besar

Share on:

Leave a Comment